Sunday, 4 March 2012

KOMIK SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN


Salah satu daparida tugas guru adalah menyediakan suasan yang menyediakan suasana yang menyenangkan selama proses belajar. Guru harus mencari cara untuk membuat pembelajaran menjadi menyenangkan dan mengkesampingkan ancaman proses pembelajaran. Salah satu cara adalah dengan menggunakan komik sebagai media pembelajaran.

Mengapa komik? 
Karena anak – anak, sebagaimana orang dewasa juga, menyukai komik. Oleh karena itu, jika media yang menyenangkan ini dipakai dalam proses pembelajaran, ia akan membawa suasana menyenangkan dalam proses pembelajaran. Jika siswa mendapati suasana yang menyenangkan dalam proses pembelajaran, mereka akan terlibat total dalam proses pembelajaran itu. Keterlibatan secara total ini penting untuk melahirkan hasil akhir yang sukses. selama proses belajar. Guru harus mencari cara untuk membuat pembelajaran menjadi menyenangkan dan mengkesampingkan ancaman selama proses pembelajaran. Salah satu cara untuk membuat pembelajaran menjadi menyenangkan adalah dengan menggunakan komik sebagai media pembelajaran.

Tapi sebenarnya, komik telah lama digunakan sebagai media pembelajaran. Robert Thorndike bekerja sama dengan DC Comics dan Harold Downes menciptakan buku latihan bahasa yang menggunakan gambar – gambar Superman (Sones, 1944). Para pendidik di Amerika juga menciptakan komik yang mendukung kurikulum pendidikan. Tapi itu tidak berlangsung lama. Orang – orang mulai percaya bahwa komik telah berperan dalam menciptakan kenakalan remaja. Yang lain percaya bahwa komik menghalangi minat baca, imajinasi, dan menyebabkan iritasi mata (Dorrell, Curtis, & Rampal, 1995). Komik juga dituduh sebagai musuh dari membaca serius (Dorrell, Curtis, & Rampal, 1995).

•Karena asumsi – asumsi negatif ini, komik tidak lagi ditemukan di ruang pembelajaran. Kondisi ini berlanjut sampai 1970an. Berikut ini adalah tokoh yang membawa komik ke ruang kelas lagi; Richard W. Campbell mengintegrasikan komik kedalam program membaca (Koenke, 1981); Robert Schoof menganggap komik berguna untuk pembelajaran bahasa, khususnya dalam mengajarkan dialek dan karakterisasi (Koenke, 1981); Dalam jurnal perdagangan, pendidik Kay Haugaard (1973) dan Constance Alongi (1974) merekomendasikan komik bagi siswa yang tidak suka membaca; dan Bruce Brocka (1979) menganjurkan komik sebagai benteng pertahanan terhadap alat yang mengancam budaya membaca; Televisi.

•Beberapa tahun kemudian, komik akhirnya mendapat tempat di dunia pendidikan. Neil William mengganti buku ESLnya yang masih tradisional dengan komik Calvin and Hobbes untuk mengajar di American Language Institute of New York University (1995). Dan banyak pustakawan yang percaya bahwa komik dapat mengalihkan perhatian pelajar dari televisi dan video games (Bacon, 2002).
Menurut Gene Yang (2003) komik memiliki lima kelebihan jika dipakai dalam pembelajaran. Kelebihan itu adalah:

1. Memotivasi
•Hutchinson (1949) menemukan bahwa 74% guru yang disurvei menganggap bahwa komik “membantu memotivasi” (hl. 244), sedangkan 79% mengatakan komik “meningkatkan partisipasi individu” (hl. 244). Satu guru bahkan mengatakan bahwa komik membuat pembelajaran menjadi “pembelajaran yang sangat mudah” (Hutchinson, 1949, hl. 244). DC Comics, Thorndike, dan Downes juga menemukan bahwa komik juga mampu memotivasi siswa ketika mereka memperkenalkan buku latihan bahasa Superman ke kelasnya. Mereka menemukan bahwa siswa memiliki “ketertarikan yang tak biasa” dan, sebagaimana ditulis’ “mampu membuat siswa menyelesaikan tugas yang seharusnya diselesaikan dalam satu minggu menjadi satu hari saja” (Sones, 1944, hl. 233). 
Hasil eksperimen di atas menunjukkan kepada kita bahwa komik benar – benar mampu memotivasi siswa selama proses belajar mengajar.
•2. Visual

Komik terdiri dari gambar – gambar yang merupakan media visual. Adalah Sones’ (1944) yang berkesimpulan bahwa kualitas gambar komik dapat meningkatkan kualitas pembelajaran: Sones membagi empat ratus siswa kelas enam sampai kelas Sembilan kedalam dua kelompok. Masing – masing kelompok seimbang dalam pembagian kelas dan kecakapannya. Kelompok pertama disuguhi pembelajaran cerita dengan menggunakan komik dan yang kedua hanya menggunakan teks saja. Setelah itu, mereka dites untuk mengetahui isi dari pembelajaran cerita itu. Setelah seminggu, prosesnya diubah, kelompok pertama disuguhi teks saja sedang yang kedua diberikan komik. Kemudian kedua grup dites lagi. 
Akhirnya, Sones (1944) berkesimpulan bahwa “pengaruh gambar terlihat dalam hasil tes” (hl. 238). Tes pertama menunujukkan bahwa kelompok pertama mendapatkan nilai jauh lebih tinggi daripada kelompok kedua. Di tes kedua kelompok kedua mendapatkan nilai jauh lebih tinggi daripada kelompok pertama
•3. Permanen

Menggunakan komik sebagai media pembelajaran jauh berbeda dengan menggunakan film atau animasi. Meskipun film dan animasi juga merupakan media visual, mereka hanya dapat dilihat tanpa bisa mengulanginya sekehendak kita. Komik, berbeda dengannya, merupakan media yang permanen. Sederhananya, jika siswa tidak memahami suatu adegan film atau animasi, mereka tidak bisa mengulanginya. Tapi dengan komik, mereka bisa mengulangi sesuka hati mereka. 
•4. Perantara

Karl Koenke (1981) mengatakan bahwa komik bisa mengarahkan siswa untuk disiplin membaca khususnya mereka yang tidak suka membaca atau yang memiliki kekhawatiran akan kesalahan. Komik bisa menjadi jembatan untuk membaca buku yang lebih serius. Haugaard (1973) mengatakan bahwa komik bisa mengubah siswanya yang tidak suka membaca menjadi siswa penyuka Jules Verne and Ray Bradbury\
•5. Populer

Kita bisa mengatakan bahwa siswa kita saat ini berada dalam budaya populer. Timothy Morrison, Gregory Bryan, and George Chilcoat (2002) mengatakan bahwa dengan memasukkan budaya populer kedalam kurikulum bisa menjembatani kesenjangan perasaan siswa ketika di dalam dan luar sekolah. Komik adalah bagian dari budaya populer. Kita tahu bahwa Spiderman and Batman adalah film yang diambil dari komik. Ini akan berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam belajar.
•Lalu, secara teknis bagaimana memanfaatkan komik dalam pembelajaran bahasa Inggris? Dialog – dialog yang terdapat dalam gelembung bicara tokoh – tokoh komik bisa digunakan untuk membantu siswa mengeksplorasi suatu tata bahasa Inggris, ini salah satu misal saja. Dengan kelebihan – kelebihan komik, seperti yang disebutkan di atas, pembelajaran diharapkan lebih efektif sekaligus efisien. Untuk lebih menariknya, ada baiknya jika guru menggunakan komik yang terkenal dan berbahasa Inggris. Namun, perlu diperhatikan bahwa tidak setiap komik, meskipun berbahasa Inggris, bisa digunakan untuk media pembelajaran bahasa Inggris. Pilihlah komik yang menggunakan kalimat – kalimat sederhana dalam dialognya. Menurut penulis, komik Tin Tin dan Garfield bisa memenuhi kriteria ini. 


Sunday, 19 February 2012

PENGIMBUHAN & PEMAJMUKAN


3.3 Proses Pembentukan Kata dalam Bahasa Melayu
Dalam bahasa Melayu terdapat empat bentuk kata, iaitu kata tunggal, kata terbitan, kata majmuk, dan kata ganda. Kata tunggal tidak melibatkan apa-apa proses pembentukan, tetapi tiga bentuk kata lain melibatkan proses-proses tertentu. Proses-proses ini ialah pengimbuhan. pemajmukan, penggandaan dan akronim.

3.3.1 Proses Pengimbuhan

Proses pengimbuhan ialah proses yang menggandingkan imbuhan pada kata dasar untuk membentuk kata terbitan. Terdapat empat jenis imbuhan, iaitu awalan, akhiran, apitan, dan sisipan. Imbuhan-imbuhan ini, apabila digandingkan dengan kata dasar membentuk kata terbitan daripada pelbagai golongan kata iaitu kata kerja, dan kata adjektif. Berikut diperlihatkan beberapa contoh proses pengimbuhan.

Imbuhan (Awalan)
Kata dasar
Kata terbitan
Pem-
bawa
pembawa
Memper-
kuat
memperkuat
-isme
nasional
nasionalisme
-i
dekat
dekati
Peng-.....-an
isytihar
pengisytiharan
Men-.....-i
ikut
mengikuti
Ke-...-an
sihat
kesihatan
Ber-....-an
lari
berlarian
-er-
gigi
gerigi
-em-
gilang
gemilang



Kata Dasar
Imbuhan
Kata Terbitan
libat
terlibat
keterlibatan
lanjur
terlanjur
keterlanjuran
balik
terbalik
menterbalikkan
sambung
sinambung
kesinambungan

 

Sebahagian besar proses pengimbuhan berlaku pada kata dasar, yang menghasilkan kata terbitan. Kata terbitan yang dihasilkan oleh proses pengimbuhan boleh menjadi kata dasar bagi proses pengimbuhan kali kedua. Daripada kata dasar karang, misalnya, dapat dilahirkan pengarangmelalui imbuhan peN-. Pengarang pula dapat menerima apitan ke-...-an, menerbitkan kepengarangan.

Kata Dasar
Imbuhan
Kata Terbitan
libat
terlibat
keterlibatan
lanjur
terlanjur
keterlanjuran
balik
terbalik
menterbalikkan
sambung
sinambung
kesinambungan

  
3.3.2 PROSES PEMAJMUKAN

Proses pemajmukan ialah proses yang merangkaikan dua kata dasar atau lebih dan bentuk yang terhasil membawa makna tertentu. Sebagai contoh, kerusi dan malas masing-masing mempunyai makna tersendiri, tetapi apabila dirangkaikan membentuk kata majmuk kerusi malas.Tidak dapat diselitkan apa-apa unsur antara dua kata dasar ini; maksudnya, dalam bahasa Melayu tidak terdapat ungkapan * kerusi yang malas atau * kerusi dan malas atau * kerusi untuk malas.

3.3.2.1 Pengimbuhan Kata Majmuk
Kata majmuk boleh menerima imbuhan seperti kata dasar lain. Cara pengimbuhan kata majmuk terdapat dalam dua bentuk, iaitu :

(a) Apabila kata majmuk menerima awalan atau akhiran, ejaannya tetap terpisah.
Contohnya :
urus niaga
- berurus niaga
cari gali
- mencari gali
reka bentuk
- direka bentuk
daya serap
- daya serapan
(b) Apabila kata majmuk menerima apitan, ejaannya menjadi bercantum,
Contohnya :
lipat ganda
- melipatgandakan
surat khabar
- persuratkhabaran
urus niaga
- diurusniagakan
ibu bapa
- keibubapaan

3.3.2.2 Penggandaan Kata Majmuk

Kata majmuk boleh mengalami proses penggandaan. Penggandaan kata majmuk melibatkan penggandaan unsur pertama sahaja.
Contohnya :
rumah sakit
- rumah-rumah sakit
guru besar
- guru-guru besar
Raja Muda
- Raja-raja Muda
Timbalan Naib Canselor
- Timbalan-timbalan Naib Canselor
Satu kekecualian ialah penggandaan yang melibatkan perkataan yang telah mantap. Dalam hal ini, penggandaan berlaku kepada keseluruhan perkataan.
Contohnya :
setiausaha
- setiausaha-setiausaha
jawatankuasa
- jawatankuasa-jawatankuasa
tanggungjawab
- tanggungjawab-tanggungjawab

4.0 PROSES PENGGANDAAN

Proses penggandaan ialah proses yang mengulangi kata dasar, sama ada secara penuh, separa atau berentak iaitu berdasarkan rentak bunyi tertentu. Dengan kata lain, terdapat tiga jenis penggandaan, iaitu ;
1. Penggandaan penuh,
2. Penggandaan separa, dan
3. Penggandaan berentak.

4.1 Penggandaan penuh
Penggandaan penuh ialah proses yang mengulangi seluruh kata dasar. Terdapat dua jenis penggandaan penuh, iaitu :

· Yang melibatkan kata dasar yang tidak menerima apa-apa imbuhan.
Contohnya :
Sekolah
·                     sekolah-sekolah
makan
·                     makan-makan
besar
·                     besar-besar
baju
·                     baju-baju
· Yang melibatkan kata dasar yang menerima imbuhan.
Contohnya :
pelari
·                     pelari-pelari
perbualan
·                     perbualan-perbualan
kekasih
·                     kekasih-kekasih
kejadian
·                     kejadian-kejadian

4.2 Penggandaan separa

Penggandaan separa ialah proses yang mengulangi sebahagian kata dasar sahaja. Penggandaan separa berlaku pada dua jenis kata dasar, iaitu :
· pada kata dasar tunggal dan lazimnya melibatkan pengulangan suku kata pertamanya serta letak pengulangan itu pada bahagian hadapan kata dasar. Vokal dalam bentuk gandaan ini mengalami proses pelemahan, menjadikannya vokal e pepet. Proses ini dapat digambarkan seperti yang berikut :